Monday, July 15, 2024
HomeEducationKementerian ESDM Uji Coba B40 Pada Alat Berat Excavator

Kementerian ESDM Uji Coba B40 Pada Alat Berat Excavator

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah proaktif dengan memulai uji coba penggunaan biodiesel 40 % (B40) pada produk alat berat salah satunya alat berat excavator. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati dan menekan emisi gas rumah kaca.

Kebijakan CBAM Uni Eropa, yang akan mengenakan pajak karbon pada berbagai aktivitas produksi yang menghasilkan emisi karbon, menjadi salah satu pendorong yang melatarbelakangi pengambilan langkah proaktif ini.

Baca Juga: Kementerian ESDM Gelar Sertifikasi Operator Industri Logam

Uji Coba B40 Pada Alat Berat Excavator Untuk Hadapi CBAM

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, membenarkan alasan uji coba B40 ini dilakukan untuk mengantisipasi kebijakan Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) oleh Uni Eropa yang akan berlaku mulai 1 Januari 2026.

CBAM merupakan kebijakan yang akan mengenakan pajak karbon kepada produk-produk ekspor dari negara-negara yang emisi karbonnya tinggi. Kebijakan ini dikhawatirkan akan berdampak pada sektor ekspor Indonesia, terutama sektor yang menggunakan bahan bakar fosil.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah untuk menekan emisi karbon dalam produksi dan distribusi barang-barang ekspor salah satunya melalui penggunaan biodesel B40 ini.

Uji Coba B40 Pada Alat Berat Excavator Ditargetkan Rampung Pada Desember 2024

alat berat excavator
Bahan Bakar Biodesel B40 Akan Dipasarkan Setelah Seluruh Proses Uji Coba dan Pengesahan Selesai

Uji coba penggunaan biodesel B40 pada alat berat excavator ini ditargetkan selesai pada Desember 2024. Pengembangan biodesel B40 ini ditujukan untuk menaikkan kadar bahan bakar nabati menjadi 40% dari Sebelumnya 35%.

Biodiesel B40 sendiri merupakan campuran 40% minyak kelapa sawit (FAME) dan 60% solar. Biodesel B35 sendiri sebelumnya telah dipasarkan secara komersial di Indonesia dan rencananya akan dipasarkan berdampingan dengan B40 nantinya.

Selain B40, pemerintah juga sedang mengupayakan pengembangan 1% sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar ramah lingkungan untuk pesawat terbang. Pengembangan ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan. Namun, pengembangan biodiesel dan SAF di Indonesia masih terganjal oleh moratorium lahan sawit.

Meski mengalami hambatan dalam prosesnya, namun pengembangan B40 dan SAF hingga uji cobanya terhadap alat berat excavator akan dilanjutkan sesuai target. Kementerian ESDM berharap langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi emisi karbon pada bahan bakar dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan.

Sumber: katadata.co.id

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular