Sunday, May 28, 2023
HomeEducationKomponen Elektrikal Pada Alat Berat

Komponen Elektrikal Pada Alat Berat

Komponen elektrikal pada alat berat perlu dipelihara dengan prosedur yang benar untuk menjaga performa unit kondisi prima. terdapat tiga fungsi dasar, yaitu:

  • Input, antara lain: sensor, sakelar input, pembumian (ground), daya.
  • Pengendalian, meliputi: personality module, parameter, modul pengendalian elektronik.
  • Output, seperti injektor, actuator, lampu peringatan, alat pengukur.

Peralatan yang akan mengendalikan mesin seperti personality module, software dapat menentukan daya kuda dan torsi mesin. Parameter setelan (setting) dalam personality module dapat mempengaruhi operasi keseluruhan atau kinerja, ECM yang tidak dapat direparasi sebagai housing circuit elektronic. Komunikasi dua arah yang dipergunakan data link antara mesin dan system pengendalian kendaraan elektronik.

ECM menggerakkan alat ukur tachometer atau speedometer sebagai output seperti injektor yang menyediakan pengiriman bahan bakar, actuator (injection actuation pressure control valve (IAPCV) mengkonversikan sinyal listrik dari ECM ke spool valve dapat mengendalikan tekanan outlet pompa.

Aliran arus ECM berinteraksi dengan mesin, tidak boleh membongkarnya. Hal ini mempengaruhi wiring harnes atau sensor bagaimana parameter dapat mengoptimalkan kinerja ECM.

Komponen elektrikal sistem yang terdapat dalam alat berat seperti dozer, grader, excavator dan lain-lain antara lain:

1. Battery

Mempunyai fungsi sumber tenaga atau tegangan guna mensuplai arus listrik ke sistem kelistrikan, mampu mengubah reaksi kimia menjadi energi listrik.

2.  Instalasi Elektrikal Wiring (Wiring Harnes)

Rangkaian kabel yang dipergunakan untuk menghubungkan komponen dalam sistem elektrik meliputi starting sistem, charging sistem, monitor panel dan control sistem, lighting sistem dan sebagainya, sehingga arus battery dapat mengalir dan bekerja sesuai fungsinya. Diameter kabel yang dipergunakan sesuai dengan besar arus yang mengalir, guna mempermudah menelusuri jalur kabel dapat diberi warna atau nomer sesuai sistem masing-masing.

2.1 Kerusakan wiring

Instalasi elektrikal wiring pada alat berat perlu dilakukan dengan prosedur benar dalam menjaga performa unit prima, ada beberapa kerusakan yang terjadi pada instalasi elektrikal wiring antara lain:

a. Kerusakan kabel dan konektor

Kabel dan konektor terpasang pada unit rentan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh air dan panas, baik panas matahari maupun mesin itu sendiri. Hal ini membuat kabel dan konektor lebih cepat mengalami kerusakan karena deformasi bahan yang dipergunakan, maka perlu perawatan.

b. Kerusakan kontak konektor

Penyebab kerusakan kontak konektor biasanya terjadi saat pemasangan yang tidak benar (sempurna), selain itu juga disebabkan oleh korosi atau oksidasi, membuat intermitten pada elektrikal sistem.

c. Penyambungan kabel

Penyambungan kabel dengan cara crimping harus memperhatikan prosedur yang benar,  apabila caranya tidak tepat dapat menyebabkan kabel tidak tersambung dan putus.

d. Ketidaksesuaian prosedur pelepasan konektor

Pada saat melakukan pelepasan komponen elektrik dan konektor, prosedur yang benar dengan cara memegang pada bagian konektor, tidak dianjurkan menarik kabel karena menyebabkan disconnection.

e. Konstruksi konektor

Konstruksi konektor terpasang pada alat berat didesain sedemikian rupa oleh pabrik mencegah air masuk, jika air dengan tekanan tinggi disemprotkan ke konektor menyebabkan short circuit pada sistem electric.

f. Grease masuk ke dalam konektor

Grease yang masuk ke dalam konektor menyebabkan kerusakan pada pin konektor, dapat dicegah dengan melakukan pembersihan konektor menggunakan lap kain bersih.

2.2 Perawatan wiring

Agar tetap dalam kondisi prima, perlu adanya perawatan wiring yaitu dengan cara:

a. Penekukan kabel

Apabila kabel ditekuk dengan radius kecil berpotensi kabel putus, beda dengan radius yang lebih besar akan membuat kabel menjadi lebih awet. Maka dari itu pastikan tekukan kabel 6 kali dari diameter kabel dengan menggunakan clamp dan bolt, tlerap atau media lainnya.

b. Condult kabel

Kabel terpasang pada komponen dalam posisi telanjang berpotensi kerusakan pada kabel akibat panas dan putus, maka diperbaiki dengan memberikan spiral condult sehingga lebih terlindungi dan aman.

c. Clamp pada instalasi kabel

Kabel pada komponen terkena beban dapat mengakibatkan kabel bergerak mengalami gesekan ketika terjadi getaran saat mesin berjalan, dapat diperbaiki dengan memberikan clamp pada kabel dapat mengurangi resiko kabel terjadi gesekan.

d. Hose dan wiring terpisah

Pemasangan kabel dan hose digabung jadi satu dapat diperbaiki dengan memberikan clamp terpisah antara hose dan kabel, bertujuan mengurangi resiko terjadinya gesekan pada hose dan kabel yang dikarenakan hose bergerak mendapatkan tekanan pada sistem hydraulic.

3. Starting switch (kunci kontak)

Komponen electric berupa switch digerakkan secara manual dengan cara memutar kunci, memposisikan on, strart, preheating atau off menghubungkan terminal di dalam B, BR, C, R1, R2, ACC sesuai posisi switchnya. Berfungsi mengalirkan arus listrik penggerak relay utama (battery relay, safety relay), sehingga tegangan mengalir ke sistem listrik di unit.

Adapun rangkaian dan fungsi komponen sistem starter pada alat berat dengan menggunakan motor listrik sebagai pemutar, sehingga sistem bahan bakar dan sistem pengapian (mesin bensin) dapat bekerja menggerakkan atau memutas mesin saat terkait dengan gigi ring gear roda penerus (fly wheel).

Motor starter tidak dapat bekerja jika tidak ada sumber tenaga yang menggerakkan, dimana sistem starter merupakan serangkaian komponen yang saling terkait, kunci kontak (ignition swith) berfungsi untuk mengaktifkan isitem starter dengan memberikan arus dari terminal ST (starter) pada kunci kontak ke solenoid.

4. Battery relay

Mengaktifkan dengan cara menyediakan daya ke starter relay dari battery, dapat dioperasikan secara langsung menggunakan kunci atau tombol atau diaktifkan dari jarak jauh melalui kunci pengontrol ditempatkan pada dashboard assembly atau kolom kemudi. Berfungsi untuk memutuskan atau menghubungkan negatif dengan body/chasis, disebut negative relay.

5. Safety relay

Dapat dipergunakan dalam beberapa sistem starter, terletak diantara key start switch dan starter solenoid, merupakan sebuah switch magnet diaktifkan oleh daya battery disuplai melalui key start switch. Menggunakan sejumlah kecil arus dari key start switch guna mengendalikan arus lebih besar ke starter solenoid serta mengurangi beban pada key start switch.

6. Alternator

Komponen elektrik mempnuyai tiga terminal (B,R,E) dan di pasang pada bagian depan cover engine dan du hubungkan dengan drive pully menggunakan V-belt, sehingga saat engine hidup alternator langsung ikut berputar menjadi tenaga listrik mengisi tegangan (charging) battery, menghasilkan arus DC (direct current).

7. Starting motor

Berfungsi merubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanis (putar).

8. Fusible link

Berfungsi sebagai pengaman battery supaya tidak meledak jika terjadi short circuit (kongslet) pada sistem secara menyeluruh karena misdisconnect, harnes kejepit.

9. Speed sensor

Suatu sensor yang dipasang pada housing flywheel atau transmisi dan terdapat dua buah kabel sebagai output.

10. Selenoid valve

Bekerja saat arus listrik mengalir ke coil di dalam selenoid valve, sehingga akan timbul medan magnet yang berfungsi sebagai switch valve, menghubungkan dan memutuskan aliran dari port input ke port output.

11. Monitor panel

Dipasang di dalam kabin dna bekerja berdasarkan input signal dari sensor dan switch, meliputi fungsi monitor display, switch mode selector dan memiliki CPU (central processing unit) built in memproses dan menampilkan semua informasi menggunakan LCD (liquid crystal display).

Semoga menambah pengetahuan soal elektrikal pada alat berat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular