Monday, July 15, 2024
HomeEducationTI Evaluasi Perusahaan Tambang Indonesia, Aspek Antikorupsi dan HAM Lemah

TI Evaluasi Perusahaan Tambang Indonesia, Aspek Antikorupsi dan HAM Lemah

Transparency International (TI) Indonesia baru saja meluncurkan hasil evaluasi mereka terhadap 121 perusahaan tambang di Indonesia. Evaluasi ini dilakukan menggunakan metode “Transparency in Corporate Reporting” (TRAC) untuk menilai transparansi perusahaan dalam pelaporan terkait kebijakan antikorupsi dan komitmen terhadap kepatuhan hukum.

Sayangnya, hasil evaluasi ini justru cukup memprihatinkan. Mayoritas perusahaan pertambangan di Indonesia menunjukkan skor rendah dalam aspek antikorupsi dan hak asasi manusia (HAM).

Baca Juga: Greenpeace Dan Celios Ungkap Dampak Industri Pertambangan Di Indonesia

TI Gunakan Metode TRAC Dalam Evaluasi Perusahaan Tambang

Evaluasi yang dilakukan TI diketahui menggunakan metode TRAC. Metode TRAC merupakan metode penilaian yang dikembangkan oleh TI untuk menilai transparansi perusahaan dalam pelaporan terkait kebijakan antikorupsi dan komitmen terhadap kepatuhan hukum.

Terdapat 5 aspek antikorupsi yang menjadi acuan dalam pemeriksaan ini diantaranya

  • Kode Etik
  • Struktur Tata Kelola Anti-Korupsi
  • Pengendalian Internal
  • Pelaporan dan Tata Kelola Risiko
  • Mekanisme Pelaporan dan Investigasi

Dari sisi pemeriksaan aspek hak asasi manusia (HAM), terdapat 4 Dimensi Aspek Sosial dan HAM yang menjadi dasar pemeriksaan diantaranya:

  • Komitmen Terhadap Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia
  • Penilaian Dampak Sosial dan Lingkungan
  • Mekanisme Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa
  • Keterlibatan dan Konsultasi dengan Pemangku Kepentingan

Dari evaluasi yang dilakukan terhadap 121 perusahaan tambang, rata-rata skor TRAC untuk Aspek Antikorupsi hanya 0,31 dari 10, sedangkan untuk Aspek Sosial dan HAM hanya 0,30 dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak perusahaan pertambangan yang belum terbuka dalam mengungkapkan kebijakan antikorupsi mereka dan belum menjalankan praktik bisnis yang berintegritas dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

121 Perusahaan Tambang Diperiksa, Hanya 1 Perusahaan yang Berasal Dari Aceh

Dari 121 perusahaan yang dievaluasi, hanya PT. Mifa Bersaudara yang berasal dari Aceh. Perusahaan ini mendapat skor 0 untuk aspek antikorupsi dan 3,42 untuk aspek sosial dan HAM.

Temuan TI Indonesia ini tentu saja mengkhawatirkan, eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang, baik secara ekonomi maupun sosial.

Baca Juga: Indonesia Perkuat Posisi di Industri Tambang Timah Global Melalui Asean Tin Industry Conference 2024

Laporan ini juga menyoroti beberapa permasalahan penting, seperti minimnya pendapatan daerah dari sektor tambang, maraknya masalah lingkungan dan konflik lahan terkait tambang, dan kompleksitas regulasi dan pengelolaan tambang.

Perusahaan tambang perlu meningkatkan komitmen antikorupsi dan HAM dengan menerapkan kebijakan yang jelas dan transparan, serta menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan pengelolaan tambang untuk memastikan bahwa kegiatan pertambangan dilakukan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Masyarakat sipil juga perlu berperan aktif dalam mengawasi dan mendorong perusahaan tambang untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab.

Laporan hasil evaluasi TI Indonesia ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan untuk membangun operasional di sektor tambang yang lebih maksimal dan berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan tambang baik yang telah dievaluasi ataupun tidak juga diharapkan memperbaiki diri agar menjadi perusahaan pertambangan yang sehat dari berbagai aspek.

Sumber: acehprov.go.id

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular